Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesendirian & Tuhan

Jumat, 21 Maret 2025 | Maret 21, 2025 WIB Last Updated 2025-03-21T14:38:59Z


Foto Mimin di Pantai Say Tolama,Rote-NTT
 

Kesendirian itu aneh. Kadang dicari, kadang dihindari. Ada saat di mana manusia butuh menyendiri utk berpikir, tapi ada juga saat di mana kesendirian terasa seperti beban yg menekan. Tapi ada satu hal yg sering luput dari perhatian, kesendirian bukan berarti Tuhan tdk ada bersama. Justru dalam kesendirian, Tuhan sering kali terasa paling nyata.


Bayangkanlah seorang pria berjalan sendirian di padang gurun, Matahari begitu terik, pasir panas membakar kakinya, dan di kejauhan hanya ada bayangan fatamorgana. Ia sudah berjalan jauh, tapi tujuannya belum terlihat. Tdk ada teman bicara, tdk ada suara manusia lain. Hanya langkah kakinya sendiri dan desiran angin yg membawa debu.

Di awal perjalanan, ia masih berharap akan bertemu seseorang di tengah jalan. Tapi seiring waktu, harapan itu pudar. Sekarang hanya ada dirinya sendiri. Ia mulai berpikir, bertanya, berbicara pada diri sendiri. Kenapa ia ada di sini? Apa yg sedang ia cari? Semakin ia melangkah, semakin ia menyadari bahwa di kesunyian itu ada sesuatu yg lebih dalam, suara yg bukan datang dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri. Dan saat ia benar-benar diam, ia mulai mendengar.


Kesendirian itu seperti malam. Gelap, sunyi, terasa dingin. Tapi justru di dalam gelap itulah bintang terlihat paling jelas. Dalam keramaian, Tuhan sering kali hanya terdengar samar-samar, tenggelam dalam suara manusia dan kebisingan dunia. Tapi dalam kesunyian, dalam ruang kosong, suara-Nya bisa terdengar lebih jelas.


Banyak orang taku sendirian. Takut karena tdk ada yg bisa diajak bicara. Takut karena semua kebisingan yg biasanya mengalihkan perhatian tiba-tiba menghilang. Tapi mungkin ketakutan itu bukan pada kesendiriannya sendiri, melainkan pada apa yg akan mereka temukan di dalamnya. Kesendirian itu cermin. Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya, tanpa topeng, tanpa peran sosial. Dan lebih dari itu, ia juga tempat di mana Tuhan berbicara tanpa perantara.


Ada waktu di mana seorang pria duduk sendiri di taman. Sudah lama ia merasa kosong. Ia merasa Tuhan begitu jauh, doa-doanya seakan tdk menembus langit. Malam itu, ia hanya duduk, diam, tdk berkata apa-apa. Lalu, di tengah keheningan, ia mulai menyadari sesuatu bahwa justru dalam diam itulah ia lebih dekat kepada Tuhan daripada sebelumnya. Bukan karena ada suara dari langit, bukan karena ada tanda ajaib, tapi karena ia berhenti berusaha mendengar dengan telinga, dan mulai mendengar dengan hatinya.


Dalam Alkitab Yesus sendiri pernah menarik diri ke tempat sunyi. Ia dikelilingi banyak orang, diikuti ribuan murid dan pengikut, tapi tetap memilih kesendirian untuk berdoa. Seorang yg memiliki kuasa atas angin dan badai tdk butuh kesendirian untuk mengumpulkan kekuatan, tapi Ia tahu bahwa dalam sunyi ada sesuatu yg lebih dalam, keintiman dgn Bapa-Nya


Kadang manusia berpikir bahwa Tuhan paling nyata dalam mujizat besar, dalam suara yg menggema dari surga. Tapi Tuhan sering kali memilih cara yg lebih halus, lebih lembut, lebih personal. Bukan dalam gemuruh, tapi dalam bisikan. Bukan dalam keajaiban yg terlihat, tapi dalam kesadaran yg tumbuh pelan-pelan di dalam hati.


Kesendirian bukan tanda bahwa Tuhan menjauh. Justru bisa jadi, itu adalah undangan untuk datang lebih dekat.


Semoga menginspirasi.

Beny Takumau


×
Berita Terbaru Update