Resiko Menjadi Seorang Pencari Fakta
Dalam riset sosial, banyak yg masih salah paham soal peran seorang informan. Ada yg pikir kita hanya ikut campur urusan orang atau punya kepentingan pribadi dalam riset yg dilakukan. Padahal, kita justru harus masuk ke dalam situasi yg kita teliti, bukan sekadar mengamati dari luar. Keterlibatan langsung sangat penting untuk mendapatkan gambaran yg lebih jelas dan tidak bias. Jika hanya melihat dari luar, kita bisa saja tidak mengerti hal-hal penting yg ada di dalamnya.
Jika hanya berada di luar, kita tidak akan mendapatkan gambaran utuh tentang apa yg terjadi di dalam. Misalnya, jika kita meneliti tentang suatu komunitas, kita tidak bisa hanya diam dan mengamati saja. Kita harus ikut masuk, merasakan bagaimana mereka berinteraksi, apa yg mereka pikirkan, dan mengapa mereka bertindak seperti itu. Tanpa keterlibatan langsung, kita bisa kehilangan banyak informasi yg mungkin tidak terlihat dari luar.
Sebagai contoh, ada riset yg dilakukan oleh Margaret Mead pada tahun 1920-an tentang budaya suku-suku di Samoa. Ia tidak sekadar duduk diam, tetapi benar-benar tinggal bersama mereka, berbaur, dan mengalami kehidupan sehari-hari mereka. Hasilnya, ia bisa memberikan pandangan baru tentang budaya remaja yg sangat berbeda dari perspektif Barat. Jika ia hanya mengamati dari jauh, informasi seperti itu tidak akan bisa ia dapatkan.
Dari sisi psikologi, keterlibatan langsung memiliki pengaruh besar. Saat kita terlibat secara langsung, kita tidak hanya melihat apa yg tampak di permukaan, tetapi juga bisa merasakan emosi, pola pikir, dan motivasi orang-orang yg ada dalam situasi tersebut (dialeg Kupang "Iko rasa apa yg dia rasa"). Banyak hal yg dapat kita tangkap ketika benar-benar berada di dalamnya, misalnya bagaimana interaksi antarindividu atau makna dari simbol-simbol tertentu bagi mereka.
Namun, ada tantangannya juga. Terkadang, kita bisa terbawa perasaan dan akhirnya terjebak dalam hubungan emosional dengan orang yg kita teliti. Hal ini dapat mengganggu objektivitas kita dan membuat riset menjadi tidak akurat. Oleh karena itu, kita harus tetap menjaga jarak emosional agar tetap objektif.
Di lapangan, banyak hal yg tidak mudah. Komunitas yg kita teliti sering kali tertutup terhadap orang luar, sehingga kita harus berusaha membangun kepercayaan. Kita harus menunjukkan bahwa niat kita hanya untuk memahami mereka, bukan untuk menilai atau mengubah mereka. Proses ini tidak bisa cepat, bisa memakan waktu lama.
Sebagai contoh lain, dalam riset yg dilakukan oleh Claude Strauss di sana e, ia tinggal bersama suku pedalaman untuk meneliti mitos dan struktur sosial mereka. Meskipun ia seorang antropolog terkenal, ia membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Ia harus benar-benar menunjukkan bahwa ia memahami konteks budaya mereka. Proses ini tidak bisa instan.
Selain itu, kita juga harus sangat berhati-hati dalam hal etika. Kadang-kadang, kita bisa mendapatkan informasi yg sangat pribadi, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga privasi orang-orang yg kita teliti. Jangan sampai kita melanggar batasan etis hanya demi mendapatkan data.
Peran seorang informan sering kali disalahpahami. Banyak yg berpikir kita ikut campur atau punya niat buruk. Padahal, kita tidak berniat menimbulkan masalah atau menyulitkan orang lain. Tujuan kita hanya satu: mencari pemahaman yg lebih dalam tentang dunia sekitar dengan cara yg objektif dan etis.
Kali ini judulnya tdk sesuai kontennya
Penulis : Beny Takumau