Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Teologi dan Pelayanan: Digerakkan oleh Cinta atau oleh Luka?

Sabtu, 29 Maret 2025 | Maret 29, 2025 WIB Last Updated 2025-03-30T10:38:26Z

Setiap manusia di dunia ini pasti pernah mengalami luka, kekecewaan, atau rasa sakit. Namun, bagaimana kita menyikapinya adalah hal yang menentukan arah kehidupan rohani kita. Terkadang, tanpa sadar, kita menjadikan rasa sakit itu sebagai pusat perhatian dan membalutnya dengan kata-kata yang menuntut simpati. Memang, ada tempat yang tepat untuk mengungkapkan rasa sakit, tetapi jika kita tidak menyelesaikannya bersama Tuhan, rasa sakit itu bisa menjadi bahan bakar bagi teologi dan pelayanan kita.


Salah satu godaan terbesar bagi seorang pelayan adalah melayani bukan karena cinta, tetapi karena luka yang belum tersembuhkan—entah itu kekecewaan, trauma, atau bahkan dendam. Jika ini yang terjadi, pelayanan yang kita jalankan tidak benar-benar bersumber dari kasih ilahi, melainkan dari keinginan membuktikan sesuatu atau menuntut keadilan pribadi.


Tentu, ada bentuk kemarahan yang kudus, seperti yang diperlihatkan Yesus ketika Ia mengusir para pedagang di Bait Allah (Yohanes 2:13-16). Namun, yang sedang kita bahas di sini adalah kemarahan yang berasal dari luka batin yang belum diserahkan kepada Tuhan.


Kisah Musa menjadi peringatan bagi kita dalam hal ini. Musa adalah pemimpin yang dipilih Tuhan untuk membawa Israel keluar dari Mesir. Namun, dalam perjalanan di padang gurun, ia pernah membiarkan emosinya menguasai dirinya. Dalam Bilangan 20:1-12, Tuhan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada batu agar mengeluarkan air bagi umat Israel. Tetapi karena kemarahannya terhadap bangsa itu, Musa malah memukul batu tersebut dua kali dengan tongkatnya. Meskipun air tetap keluar, Tuhan memutuskan bahwa Musa tidak akan masuk ke tanah perjanjian karena ketidaktaatannya. Ini menunjukkan bahwa meskipun seorang pemimpin bisa digunakan Tuhan, tindakan yang didorong oleh kemarahan yang tidak terkendali bisa membawa konsekuensi yang berat.


Kisah Yefta juga memberikan pelajaran penting. Dalam Hakim-hakim 11, Yefta adalah seorang yang ditolak oleh keluarganya dan akhirnya menjadi pemimpin tentara Israel. Ketika Tuhan memberinya kemenangan, ia membuat nazar yang tragis: ia berjanji untuk mempersembahkan siapa saja yang pertama keluar dari rumahnya sebagai korban bakaran (Hakim-hakim 11:30-31). Tragisnya, yang pertama keluar adalah anak perempuannya sendiri. Nazar ini menunjukkan bahwa Yefta, yang mungkin masih terluka karena penolakan di masa lalu, berusaha membuktikan dirinya kepada Tuhan dan manusia dengan cara yang berlebihan. Luka batinnya membuatnya berpikir bahwa ia harus melakukan sesuatu yang ekstrem agar diterima dan diakui.


Pengalaman seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang yang pernah dihina, diremehkan, atau disakiti, kemudian menghabiskan hidupnya untuk membuktikan bahwa mereka berharga. Bahkan pelayanan dan teologi mereka bisa menjadi alat pembuktian diri, bukan ekspresi kasih kepada Tuhan dan sesama.


Tuhan memang bisa memakai siapa saja, termasuk mereka yang terluka. Namun, ada jalan yang lebih baik: melayani dan berteologi karena cinta, bukan karena luka atau kemarahan. Tuhan rindu agar kita datang kepada-Nya dengan segala kepedihan kita, supaya Dia sendiri yang menyembuhkan. Mazmur 147:3 berkata, "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." Orang yang telah dipulihkan oleh Tuhan akan memahami betapa dalamnya kasih-Nya, sehingga mereka mampu mengampuni dan melihat masa lalu dalam terang anugerah.


Tuhan bukan hanya ikut merasakan penderitaan kita—Dia juga bangkit dan memberi kuasa agar kita bisa mengalami kedalaman kasih-Nya. Jika kita melayani karena luka, kita cenderung terus menuntut perhatian dan kasih dari orang lain. Tetapi jika kita melayani karena cinta, kita justru menyaksikan betapa cukupnya kasih Allah di dalam Kristus.


Pelayanan dan teologi kita harus mencerminkan pengampunan Tuhan, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi mereka yang pernah melukai kita. Kiranya kita melayani dengan hati yang telah dipulihkan, bukan hati yang masih menuntut pembuktian.


Disadur dari Tulisan di FB. Pdt.Billy Kristanto


Beny Takumau 

Soli Deo Gloria 



 

×
Berita Terbaru Update